budhilingua

Prolog

Aku dan penerus cita-citaku

Apa kabarmu sang fana? Lelahkah kau diinjak-injak, dijamah tangan-tangan dan perut-perut lapar, dibanjiri oleh berjuta kotoran, dipenuhi selaksa keluhan? Lelahkah kau sang fana? Engkau tetap diam. Tapi di mana semua keramahanmu dulu? Keramahan yang pernah kukenal ketika aku masih bocah? Tanahmu yang hitam dan subur, anginmu yang semilir sejuk mengalir, airmu yang segar penghapus dahaga, di mana semua itu sang fana? Kamikah yang salah? Atau kamukah yang terlalu naif? Oh, sang fana, bersuaralah dan jawablah tanyaku! (16 Februari 2009)

Sang Fana

Hai duniaku. Kamu semakin renta tanpa daya. Langit biru, deru samudra, sejuk udaramu, semua hanya tinggal cerita. Langkahmu semakin tertatih. Adalah kamu yang selalu diam. Free2rhyme, hanya itu yang kau ucapkan. Maafkan kami, sang fana, para insan profan tiada batas kepuasan dan keangkuhan. Semoga bening mata indah bidadari kecilku memberimu setetes embun penyegar dahagamu. (10 Februari 2009)

  1. Piye pesananku? Lg repot opo kok rung balas?

  2. Assalamu’alaikum w.w. Pripun Kang kabare Panjenengan? Wah lamane niki apik tenan. Monggo melampah-lampah teng lamane kulo njih….